serve all & take nothing

Archive for the ‘Renungan’ Category

Katanya peduli..?? Lingkungan harus dijaga demi kebaikan bersama, meski musim hujan di depan mata, sungai-sungai di samping rumah banyak sampahnya, dibiarkan saja dengan resiko banjir menghadang. Tapi kok ga ada yang berniat membersihkan sampah-sampah itu?

Katanya peduli..?? Jangan menebang hutan sembarangan, tapi kenyataannya orang-orang dan perusahaan kayu ilegal malah seenaknya tebang sana tebang sini. Duh miris deh…

Katanya peduli..?? Tapi sama tetangga rumah kanan dan kiri aja ga kenal, ga tau kerja dimana, asalnya dari mana. Setelah ada polisi datang baru deh tau kalo mereka orang ga bener. Rumah jadi tempat pabrik ecstasy ato sarang teroris

Katanya peduli..?? Saat ada orang yang memerlukan bantuan di depan mata, kita hanya diam saja meski kita bisa membantunya..

Iklan

Seminggu yang lalu, seseorang mengucap kalimat yang menghentak diriku. Meski aku tahu mungkin beliau tak bermaksud untuk menyindirku, namun hanya sekedar mengajarkan pelajaran budi pekerti pada buah hatinya, tapi cukup menohok diriku ­čÖé . Aku menyadari selama ini diriku masih suka terbang dengan egoku, dengan kesombonganku, dengan keangkuhanku. Dan hari itu menjadi pelajaran berharga bagiku, seperti menatap diri didalam cermin, menjadi refleksi diri untuk belajar melepas semua itu dan mencoba turun kejalan becek dibawahku. Aku bukan siapa-siapa, aku tak memiliki apapun yang melebihi siapapun, aku adalah aku. Orang yang masih harus banyak menempa diri dan jiwaku untuk selalu rendah hati dan menjadi orang yang lebih baik untuk orang lain dan untuk diriku sendiri. Aku malu karena ternyata ego dan kesombongan masih menjadi kusir didiriku. Setiap aku me-rewind kalimat itu pada rekaman di otakku, aku hanya mampu menutup mata dan menasehati jiwaku “malu lah engkau pada dirimu sendiri karena segala kesombongan dan keangkuhan yang mengikatmu”. Biarlah rekaman itu tetap ada di dalam pikiranku, sehingga ia tetap dapat menjadi bumerang yang positif bagiku dan selalu memberi sinyal peringatan saat aku mulai lupa dan melambung tinggi bersama sang ego.

Denpasar, 20 Maret’08. Keep spirit..

Pernahkah kita sadar, kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan mata, kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari kedua sisi. Menangkap pujian maupun kritikan, dan melihat mana yang benar.
Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala,sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Tak seorangpun yang dapat mencuri isi otak kita, yang lebih berharga dari segala permata yang ada.
Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.
Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai, tetapi jangan mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan. Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini akan menjadi lebih indah.

Curhat : 

Hati ini rasanya penuh banget, sesak hingga membuatku sulit tuk bernafas. Seharian aku bergelut dengan seribu pertanyaan dalam otakku yang datang silih berganti. Mengapa begini? Kenapa terasa seperti ini? Apa kesalahan yang telah kuperbuat? Mengapa seseorang tega berlaku “tak adil” padaku? dan masih banyak pertanyaan yang semakin memojokkan hatiku. Padahal sehari ini, antibodi “hatiku” telah bekerja sangat keras mencegah virus-virus masuk kedalam. Ditambah dengan berbagai macam pertanyaan yang berputar bagai caroussel, lengkaplah sudah penderitaan “sang hati”. Merkurinya meredup seperti listrik yang voltagenya turun, seperti handphone yang lowbatt.
Aku bingung, tak tahu harus bercerita pada siapa. Saat berbaring ditempat tidur aku teringat ucapan mas sigid “kalau kamu terikat dengan penderitaan seperti memakai kacamata hitam dek, kamu ga akan bisa melihat warna aslinya” Aku menyemangati diriku sendiri, untuk apa meratapi hal-hal seperti ini? kamu masih punya tanggung jawab pada dirimu sendiri, jangan terlena di garis abu-abu dek.
Tapi kok ga mempan ya? rasanya dalam hati ini masih terasa berat, berat banget. Pada siapa aku harus bercerita? Tiba-tiba hati kecilku berkata “Pada Tuhan”, hanya padaNya kau dapat mengadu.
Dalam hitungan detik aku telah bersila dihadapan Ganesha (tanpa sarana apapun karena kebetulan aku sedang halangan) dan keluarlah segalanya dengan melimpah ruah, wuih..meriah sangat, bahkan hampir banjir.
Mengucap Om Sai Ram, Om Sri Ganesh, Gayatri Mantra berulang-ulang, melepas segalanya, menenangkan jiwa. Percayakah kau dengan kekuatan doa? Aku sangat percaya, dan aku membuktikannya.
Ya tuhan..tenang kurasa, seiring doa terucap dari bibirku seolah seluruh doa itu ikut masuk kedalam tubuhku dan mengalir deras dalam darahku. Perlahan namun pasti rasa sesak yang menghimpit dadaku menghilang dan yang tertinggal hanya ketenangan, Om Sai Ram. Sungguh tenang dan damai kurasa, hatiku ringan. Entah kemana segala beban yang menghimpitku tadi.
Seperti keajaiban 5 menit setelah aku selesai berdoa,ada sms masuk dari seorang teman lama yang sudah hampir 3 tahun tak pernah berkomunikasi denganku. Isinya “Om Sai Ram, aku baru pulang dari center, Ultah Baba, kamu ga lupa kan ?” Aku menangis karena bahagia, aku percaya kekuatan doa dan aku membuktikannya, God blessing me..
Terima kasih Tuhan….

Dps, 23 Nov’07,22.00pm

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang.Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel. Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar.
Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku,apa yang kaulihat?”
“Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.
Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?”

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air
mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.
“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya. “Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur,atau kopi?”

Bagaimana dengan ANDA, sobat?
Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?
Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan,perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?
Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100┬║ C.Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur,atau biji kopi?

Sumber: from outlook

Hari ini sepertinya ada yang lagi sensi deh dikantor,dari pagi bawaannya agak bad mood. Saya jadi takut kalo mo nanya sesuatu. Sebenarnya keliatan bad mood dari kemaren, dan sepertinya berlanjut hingga hari ini ­čÖé Kemaren ada yang nanya sama saya, “kayaknya dia lagi marah tuh, kira-kira marah ma siapa ya?” Saya cuma senyum sambil jawab “aku ga tau…emangnya dia marah?” saya balik nanya.

┬áDalam hati saya juga bertanya-tanya, wah dia kenapa tuh? kok agak mecucu (he..he..he..maaf), rasa ingin tahu dalam hati juga lumayan gede, tapi rupanya “sisi baik” saya lagi menguasai diri hingga akhirnya saya berbicara pada diri sendiri “sudahlah, ga perlu mencari tahu urusan orang lain yang bukan urusanmu, dan ga berkaitan denganmu”

Yah..mungkin setiap orang punya masalah masing-masing, tergantung bagaimana mereka menghadapinya. Dan sepertinya bukan hal yang baik bila kita selalu ingin tahu masalah orang lain. Everyone has own secrets, everyone has own privacy. Privacy adalah hal yang paling sensitif dari diri seseorang, bila kita selalu ingin tahu masalah orang lain bukankah itu berarti kita melanggar privacy orang lain?

Ibaratnya kita datang kesuatu tempat dimana diatas pintu berisi tulisan “do not enter” atau “don’t pass this way” ,apakah kita akan tetap “nyelonong masuk?” . Kalo nekat tentu si empunya tempat akan marah. Sama seperti privasi seseorang, kita tidak berhak untuk tahu dan mencari tahu bila “sang pemilik” tidak menginginkan kita untuk tahu. Kita sendiri juga ga akan suka bila masalah pribadi kita yang mungkin sedang tidak ingin diketahui oleh orang lain,justru dikorek-korek oleh orang yang bisa disebut si “tukang cari tahu”.

Dan hari ini saya hanya mencoba belajar dari pengalaman pribadi, bahwa mencari tahu masalah pribadi orang lain,akan menyakiti hati orang itu juga. Bukannya ga mungkin akan menimbulkan permusuhan. Jadi akan lebih baik bagi kita bila kita tidak terus berusaha mencari tahu urusan orang lain. Bukankah hidup dalam kedamaian itu lebih indah? So..keep away and don’t pass this way.

yang setuju boleh acungkan tangan……. :mrgreen:

Sambil kerja,sambil ngobrol ma teman-teman kantor. Mulai dari ngobrolin masalah politik, gosip selebriti (halah..itu mah makanan pokok :mrgreen: ), masalah makanan,atau curhat seputar persoalan kantor yang sedang dihadapi.
Obrolan siang ini sampai pada masalah “kalo ga ada orang jelek,orang cakep juga ga ada” itu seloroh teman saya. Kalimat itu membuat saya memikirkan sesuatu, iya benar juga sih. Kalo didunia ini ga ada orang jelek gimana jadinya ya? Atau dunia ini isinya hanya orang cantik doang,apa mungkin?
Jadi terlintas dipikiran saya, ternyata Tuhan menciptakan segala sesuatu itu selaras, seimbang dan berpasangan. Cuma tergantung manusianya aja memandang dan mengapresiasikannya dari sudut pandang mana. Tuhan menciptakan manusia dalam wujud pria dan wanita (seperti adam dan hawa,tapi lain urusan kalo ada orang yang keluar dari jalur kodrat yang digariskan), yang suatu saat akan bertemu dengan pasangannya masing-masing. Tuhan juga menciptakan alam semesta ini beserta isinya, bila Tuhan hanya menciptakan alam semesta tanpa isinya tentu takkan ada kehidupan. Kebaikan juga selalu beriringan dengan keburukan, manusia diciptakan ada yang cantik ada pula yang kurang cantik, ada yang dilahirkan dalam keluarga mampu dan berkecukupan,ada pula yang dilahirkan dibawah kolong jembatan tanpa tempat tinggal. Semuanya seolah memiliki peran dan pasangan masing-masing seperti dua sisi dari mata uang yang selalu berdampingan. Bila saya bisa menyadari semua hal itu, dan mulai memikirkan “saya mendapat peran apa?”, “saya berada pada bagian mana?”, dan tersadar bahwa “saya adalah orang yang sangat beruntung“, bukankah sudah seharusnya saya selalu mengucap syukur karena saya berada pada bagian saya yang sekarang? bukannya selalu mengeluh dan membebaniNYA dengan masalah-masalah kecil yang seharusnya┬ásaya syukuri dan harus┬ásaya anggap bukan masalah?