serve all & take nothing

Senja Menjemput Malam

Posted on: April 15, 2008

Senja memantulkan wajahnya diatas cermin laut, semburat lembayung menciptakan siluet tubuh dua manusia di atas batu. Keduanya termenung, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak ada suara, hanya deburan ombak memecah karang dan sesekali mencium bibir pantai.
“mengapa? mengapa semua ini harus melewati hidupku?”
“mengapa sesaat Tuhan memilihku untuk menemanimu, dan tanpa kuharapkan Ia memberikan orang lain untukmu” laki-laki itu tiba-tiba berbicara memecah kebekuan. Wajah tirusnya menunduk dengan mata sayu. Sementara wanita yang duduk disebelahnya tiada bersuara, pandangannya lurus menatap laut tanpa ekspresi. Sesekali ia menghela nafas dengan beratnya. Dalam hatinya ia membatin “Ya Tuhan..bila jalan ini harus kulewati, bila pilihanku ini menyakiti orang yang hampir kusayangi, ampunilah aku” . Sesak menghimpit dadanya menahan tanggul pertahanan dirinya agar tak runtuh.
“mengapa kau diam saja? mengapa tak kau jawab pertanyaanku ?” laki-laki itu menatapnya dengan pandangan mata terluka
“mengapa selama ini kau biarkan aku memendam harap padamu? mengapa kau biarkan rasa sayang ini tumbuh subur dihatiku? mengapa tak kau cegah aku sebelum mulai menyayangimu? mengapa kau buka celah di hatimu untukku? mengapa?” hening..tak ada suara, tak ada jawaban.
“mengapa kau gantung aku win? lalu kau hempaskan aku begitu saja” suara laki-laki itu kembali terdengar,  bergetar menahan perih yang menghimpit hatinya sejak tadi.
Wanita itu masih terdiam, menunduk dalam alam pikirannya sendiri.
Sementara senja makin temaram, air laut yang sedari tadi menciumi bibir pantai mulai surut ke tengah.
“maafkan aku..” wanita itu mulai berbicara
“sejak awal aku tak ingin menyakitimu, salahku telah mengawali semuanya”
“Aku menyayangimu,kusadari lukamu kini karena aku,maafkan aku..” wanita itu kembali terdiam, ribuan ton beban seolah menghimpit dadanya.
“Maafkan aku..aku yakin hidupmu kan lebih indah tanpa aku, percayalah padaku. Mulailah dari awal lagi,maafkan aku..”
Wanita itu bangun dari duduknya dan melangkah pergi tanpa memberi kesempatan laki-laki itu tuk bertanya lagi. Tanpa sepengetahuan sang lelaki ia berjalan dalam tangis,  meninggalkan sang lelaki yang terpekur menatap kepergiannya. Seperti senja yang ditinggal matahari tuk  menjemput malam.

12 Tanggapan to "Senja Menjemput Malam"

😥
ini pengalaman pribadi ya?
tapi, kok nama ceweknya win, sih?

#mas adit
menurut mas adit gimana?:mrgreen:
kalo ga win harusnya nama ceweknya siapa?

aiiiiih mantabh bener dah ceroen ini…
bisa request dibikinin versi ku pribadi ga??hehehe:mrgreen:

*baca lagi*
Jadi, adek itu dijodohkan ya?😛

Nama ceweknya yang agak modern gitu lho… Tia kayaknya bagus:mrgreen:

Kalau mau yang agak klasik, ya pakai saja nama Wati:mrgreen:

Waks, aku bisa ngerasain desir anginnya di sini… dingin, menggigit…

#theloebizz
makaci..makaci..😳
boleh..boleh..gimana pengalaman pribadinya yang mo dibikin cerpen?

#mas adit
dijodohkan??? ga tuh..😀
kayaknya minah juga bagus tuh mas wekekeke…

#mbak cantik
mbak cantik…apa khabar???
pake sweater mbak biar ga kedinginan😀

Senja menjemput malam pake apa? mobil, andong, atau becak?

peace Dek!

#mbak yoga
kayaknya kalo pake jaguar enak kali ya mbak?😀

sepertinya kalo dijadikan novel lebih bagus😀, sapa tau bisa diangkat menjadi film seperti ayat-ayat cinta…

#ghozan
saya belum bisa nulis yang bagus bli, baru bisa buat cerpen doang he..he..he..

kayaknya senja dan malam g bisa jalan bareng dech…

pas ada senja, malam belum datang…
pas malem udh datang, eh senja udah g ada…

hehehe…🙂

wah terasa banget nih ceritanya , sakit emang tapi musti gimana lagih………..si cewe nya sih pura2 ga mau padahal mau. kalo ga mau kenapa musti nangis..
wekekz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: