serve all & take nothing

Warisan budaya demi anak cucu?

Posted on: Januari 5, 2008

Kemarin diluar sana banyak orang yang berteriak dan marah, mengapa budaya kita bisa diklaim oleh negara lain. Banyak yang panas dan protes, karena malaysia berani mengklaim beberapa budaya kita seperti reog ponorogo, tari piring, tari kuda lumping adalah budaya dari daerah mereka sejak dulu. Masyarakat dan pemerintah seperti kebakaran jenggot karena kejadian itu, sama seperti saat pulau Sipadan dan Ligitan menjadi rebutan. Kita boleh  marah, kita boleh merasa milik kita diambil oleh mereka. Tapi pernahkah kita berpikir dan berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, kenapa hal itu bisa terjadi? Pernahkah kita menyadari bahwa banyak diantara kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang notabene adalah penerus bangsa, tidak mengenal budaya daerahnya  sendiri, apalagi sampai mempromosikannya ke ajang Internasional. Mengapa justru kita marah dan emosi saat ada negara lain atau bangsa lain yang mau memperkenalkan dan mempromosikan budaya bangsa kita? Jujur saya pribadi prihatin menyadari banyak diantara generasi muda sekarang, jarang ada yang mengenal budaya daerah. Saya sempat menyaksikan acara bertajuk Planet Remaja, dimana remaja-remaja yang tampil di acara tersebut lebih  memilih untuk menari street dance dibanding tari jaipong atau tari piring. Padahal kalau bukan kita sendiri yang menjaga warisan budaya agar tidak hilang dan tetap ada, siapa lagi? Bukankah sering di dengungkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya sendiri? Bagaimana kita bisa disebut sebagai bangsa yang besar, kalau kita sendiri tidak bisa menghargai dan menjaga budaya kita? Mungkin inilah salah satu kelemahan kita saat ini. Bila diantara sekitar 200 juta penduduk indonesia hanya 20% nya yang mau mengenal dan menjaga budaya bangsa, bukannya tidak mungkin bila nanti kita akan menjadi orang asing di negara kita sendiri. Pemerintah saat ini gencar mempromosikan Indonesia Visit Year 2008 sebagai upaya promosi budaya dan daerah,semoga semangat itu tetap bertahan selamanya, dan bukan hanya karena merasa takut disaingi oleh Malaysia yang telah lebih dahulu mengadakan hajatan serupa. Semoga selamanya kita bisa menjaga warisan budaya bangsa. Dan warisan budaya demi anak cucu bukan hanya sekedar  opini atau mimpi di siang bolong.

6 Tanggapan to "Warisan budaya demi anak cucu?"

WARISAN BUDAYA UNTUK ANAK CUCU….???

Pantesan,,, kata2 nya kurang tepat.

SEMANGAT MENJAGA WARISAN BUDAYA UNTUK ANAK CUCU..
Itu baru agak tepat.😀

Kalau Budayanya saja yang ditinggalkan tapi tidak bisa menanamkan kecintaan masyarakat terhadap budaya tersebut, maka beginilah jadinya.

kita ga pernah merasa budaya kita itu berharga sebelum budaya itu ‘hilang’ dan diambil bangsa lain

@ Purnama anda kritis sekali… salam kenal…

Dek…
mau nanya 20% diambil dari mana ya?

Dan kita sepertinya hanya bisa berteriak setelah terancam hilang … padahal menjaganya kita kurang mampu, Ayo mulai menjaga budaya kita, dimulai dari diri kita, orang timur … itu budaya juga kan?

-Ade-

#purmana
yup..makasi atas masukannya, nanti deh judulnya diganti lagi🙂

#Made
iya bli, bener tuh..

#mbak yoga
itu cuma pendapat saya aja mbak, ga diambil dari mana2:mrgreen:

#sayapku
iya, kita emang harus memulainya dari diri kita sendiri juga de..

memang benar sih, kita seakan akan gengsi jika memakai kebaya daripada memakai pakaian Cardinal atau Camel.
kita lebih suka nyanyi nyanyi di kamar mandi lagu lagu Barat dari pada menyayikan lagu Bungung Jumpa.
kita lebih suka nonton fil di 21 daripada nonton wayang.
ya gak sih
ngaku aja lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: