serve all & take nothing

Archive for November 2007

Curhat : 

Hati ini rasanya penuh banget, sesak hingga membuatku sulit tuk bernafas. Seharian aku bergelut dengan seribu pertanyaan dalam otakku yang datang silih berganti. Mengapa begini? Kenapa terasa seperti ini? Apa kesalahan yang telah kuperbuat? Mengapa seseorang tega berlaku “tak adil” padaku? dan masih banyak pertanyaan yang semakin memojokkan hatiku. Padahal sehari ini, antibodi “hatiku” telah bekerja sangat keras mencegah virus-virus masuk kedalam. Ditambah dengan berbagai macam pertanyaan yang berputar bagai caroussel, lengkaplah sudah penderitaan “sang hati”. Merkurinya meredup seperti listrik yang voltagenya turun, seperti handphone yang lowbatt.
Aku bingung, tak tahu harus bercerita pada siapa. Saat berbaring ditempat tidur aku teringat ucapan mas sigid “kalau kamu terikat dengan penderitaan seperti memakai kacamata hitam dek, kamu ga akan bisa melihat warna aslinya” Aku menyemangati diriku sendiri, untuk apa meratapi hal-hal seperti ini? kamu masih punya tanggung jawab pada dirimu sendiri, jangan terlena di garis abu-abu dek.
Tapi kok ga mempan ya? rasanya dalam hati ini masih terasa berat, berat banget. Pada siapa aku harus bercerita? Tiba-tiba hati kecilku berkata “Pada Tuhan”, hanya padaNya kau dapat mengadu.
Dalam hitungan detik aku telah bersila dihadapan Ganesha (tanpa sarana apapun karena kebetulan aku sedang halangan) dan keluarlah segalanya dengan melimpah ruah, wuih..meriah sangat, bahkan hampir banjir.
Mengucap Om Sai Ram, Om Sri Ganesh, Gayatri Mantra berulang-ulang, melepas segalanya, menenangkan jiwa. Percayakah kau dengan kekuatan doa? Aku sangat percaya, dan aku membuktikannya.
Ya tuhan..tenang kurasa, seiring doa terucap dari bibirku seolah seluruh doa itu ikut masuk kedalam tubuhku dan mengalir deras dalam darahku. Perlahan namun pasti rasa sesak yang menghimpit dadaku menghilang dan yang tertinggal hanya ketenangan, Om Sai Ram. Sungguh tenang dan damai kurasa, hatiku ringan. Entah kemana segala beban yang menghimpitku tadi.
Seperti keajaiban 5 menit setelah aku selesai berdoa,ada sms masuk dari seorang teman lama yang sudah hampir 3 tahun tak pernah berkomunikasi denganku. Isinya “Om Sai Ram, aku baru pulang dari center, Ultah Baba, kamu ga lupa kan ?” Aku menangis karena bahagia, aku percaya kekuatan doa dan aku membuktikannya, God blessing me..
Terima kasih Tuhan….

Dps, 23 Nov’07,22.00pm

Postingan yang ga penting:

Bangun pagi, melihat matahari bersinar cerah. Bisa dibilang amat sangat cerah, maklum udah hampir seminggu ini di denpasar ga pernah turun hujan, jadi jam 7 aja udah terasa siang banget kayak jam 9 pagi. Saat mandi aku teringat tulisanku kemarin, ah.. terimakasih Tuhan, atas nafasku hari ini, atas sehatku hari ini, batinku sambil mandi (busset deh..mengucap syukur sambil mandi, tapi gpp deh yang penting kan niatnya he..he..he..maksa). Habis mandi aku ngerasa ada yang ga beres dengan perutku, sepertinya maagku kumat nih, tapi aku tetap siap-siap berangkat kerja, sambil panasin motor masih sempat ngintipin anggrekku yang kayaknya udah mo berbunga (*mode on dora lagi kesenangan* cihuy….sekian bulan sabar menanti, akhirnya  berbunga juga :mrgreen: ).
Berangkat kerja?? yuuk…..jam delapan kurang seperempat aku berangkat,melewati jalan gatot subroto yang selalu ramai dipagi hari. Sampe kantor, nyalain komputer dan mengawali aktifitas rutin dipagi hari. Kemarin semua berjalan normal, bahkan bisa dibilang tak ada masalah, tak ada hambatan, hanya setitik perih yang sempat hinggap dalam tawaku. Tapi semua bisa kulalui dalam senyum, terimakasih Tuhan. Namun pagi ini, sepertinya antibodi “hatiku” harus berjuang keras untuk bisa kuat dan tegar. Melihat satu kenyataan, menyadari dan menghadapi suatu keadaan yang menurutku “tidak adil” bagiku. Aku berusaha bertahan, aku mencoba berpikir positif dan tersenyum. Aku belajar memonitor fluktuasi hatiku, agar sang “emosi” tak muncul kepermukaan dan keluar melimpah ruah bagai banjir bandang he..he..he..

Antibodi “hatiku” bergerak dengan kuat,seperti prajurit perang siap  melawan semua arus negatif yang menyerang bertubi-tubi, aku tak mengijinkan alam sadar dan  bawah sadarku mengingat bahkan memutar semua hal yang menyerang “hati” ( meskipun indah namun juga menyakitkan? ). Aku tak mengijinkan telingaku mendengar setiap kata yang terucap, aku berusaha menutup mataku agar tak melihat apa yang tak ingin aku lihat.  Sempat runtuh pertahananku selama kurang lebih 5 menit, lepas dengan meriah di toilet (punggungku mulai terasa sakit, pertanda pikiran mempengaruhi kondisi tubuh dan maagku tertawa lepas karena bisa kumat lagi dengan sukses 👿 ). Nobody see, nobody knows, i hope so. Hampir setengah hari yang menguras energi, menjaga benteng pertahanan, jangan biarkan musuh “hati” menyerang dengan sukses. Sabar..sabar…dan sabar dek,jangan lupa untuk..senyum..senyum..dan senyum..batinku pada diri sendiri

Dan sampai aku menuangkan tulisan ini aku kembali mengucap “Terimakasih Tuhan” aku kuat, aku masih bisa tersenyum. Antibodi “hatiku” mulai menguat. Semoga aku ikhlas dan sabar bukan hanya hari ini tapi seterusnya. Dan setelah menuangkan keluh kesah, hatiku jadi sedikit lebih lega, aah..terimakasih Tuhan.

Tetap semangaaat…!!!
Dps, 23 Nov’07, 13.25am

Tuhan…
Seseorang menyadarkanku pagi ini
Tuk mengucap syukur padamu
Atas nafasku hari ini
Yang masih seirama dan menyatu dalam jiwaku
Atas penglihatanku hari ini
Yang masih melihat cerahnya sinar matahari pagi
Atas sehatku hari ini
Hingga masih bisa merasakan dan berbagi kasih
Atas rejeki dan berkahMu hari ini
Yang bisa kurasakan dan kunikmati
Atas setitik perih hari ini
Yang kau selipkan dalam tawaku
Agar aku lebih memahami arti bahagia
Agar aku lebih mengerti arti memaafkan
Terimakasih Tuhan…
Atas segala yang telah kau berikan padaku
Atas segala yang telah kau titipkan padaku
Dalam hidupku hari ini…

Dps, 22 Nov’07, 18.45am

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang.Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel. Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar.
Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku,apa yang kaulihat?”
“Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.
Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?”

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air
mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.
“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya. “Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur,atau kopi?”

Bagaimana dengan ANDA, sobat?
Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?
Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan,perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?
Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100º C.Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur,atau biji kopi?

Sumber: from outlook

Seminggu sudah tanah mengering
Lembaran daun menguning
Terlepas dari genggaman pohon
Ilalangpun seakan enggan bergoyang
Karena hujan tak kunjung datang

Tanah cokelat penuh debu
Menutupi setiap sudut ruang
Mengepul ke udara membentuk gumpalan
kala sang roda empat masuk kehalaman
Ah…debu!!!
Kulitpun ikut berteriak gemas

Seminggu sudah terasa gerah
tak ada awan gelap berarak dilangit
tak ada teriakan halilintar memecah malam
tak ada gemuruh langit tanda ingin menangis
tak ada titik air turun mengecup pertiwi
Kemanakah sang hujan?
Apakah ia bersembunyi?
Apakah ia masih malu tuk muncul?

Seminggu ini
Hanya awan tipis melenggang diangkasa
Sang surya memamerkan senyumnya dengan lebar
Panas…hingga bayu pun enggan bermain
Entah kemana perginya hujan
Aku rindu mendengar suaranya
Aku rindu merasakan kesejukan yang selalu datang bersamanya
Aku rindu harum tanah kala tangisannya luruh kebumi
Ah…aku rindu sang hujan

Dps,21 Nov’07, i miss rain
 

Kasih..
Malam ini ijinkan aku merangkai kata indah bagimu
Kurajut menjadi satu pasal
Yang mengandung seribu ayat cinta
Kuukir dalam kitab undang-undang cinta kita

Kasih..
Malam ini disini
Dipengadilan cinta
Betapa ingin kuungkapkan rasa cinta dihatiku
Dan mengetuk palu keputusan
Bahwa kau kan jadi pacarku selamanya

Kasih..
Tahukan kau ?
Kala kau jauh dariku
Saat kau tak ada disisiku
Aku bagai pesakitan dikursi terdakwa
Menahan rasa rindu mendalam

Kasih..
janganlah kau marah dan kesal
Hingga menjatuhiku dengan hukuman diam
Saat aku lupa menghubungimu tadi malam
Berilah grasi padaku bila proses bandingku mandeg

Kasih..
Bila nanti cinta kita berdua mulai tak seimbang
Bagai timbangan dewi yustisi
Marilah kita buka lembaran kitab cinta kita
Yang memuat banyak kenangan indah
Agar cinta kita tetap membara
Dan tak pudar oleh debu pelanggaran

Dan hingga tiba waktunya nanti
Sang hakim agung cinta mengetukkan palu
Untuk menyatukan kita selamanya
Dalam satu bendel keputusan pengadilan
Menjalani proses hukuman kehidupan
Dalam satu terali besi cinta

Tadi pagi dan siang ini, aku buka blogku. Aku lihat ada beberapa komentar yang menghiasi blogku. Mungkin orang akan heran melihatku senyum-senyum sendiri, tertawa sendiri dan tiba-tiba bengong. Jangan-jangan mereka berpikir “wah, kadek lagi kumat nih penyakitnya” he..he..he..

jujur aku merasa bahagia, dan sedikit malu membaca beberapa komentar dari sahabat-sahabat diblogsphere pada tulisan “Sang hati”. Aku merasa bahagia karena ternyata banyak orang yang sayang dan memperhatikan diriku. Banyak orang disekelilingku dan sahabat-sahabat baruku diblogsphere yang selalu memberikan semangat dan kasih padaku. Saat aku merasa “down” mereka semua bisa menjadi penyemangat bagiku. Padahal aku baru belajar ngeblog lho…(itupun karena aku tertarik melihat hadi yang kayaknya selalu asyik kalo lagi ngeblog, dan akhirnya aku “berguru” padanya 🙂 ) tapi aku merasa bahagia karena bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini. Aku seperti memiliki keluarga baru, tempat aku mencurahkan segala isi hati dan mendapatkan banyak pelajaran yang berharga.

Dan aku juga malu pada diriku sendiri, karena aku merasa aku terlalu menyita waktu dan pikiranku pada “kesedihan”. Harusnya aku menyadari bahwa ini semua adalah proses pendewasaan diri, ini semua adalah pelajaran hidup yang baru bagiku, dan aku ga boleh terlalu larut didalamnya. Aku merasa malu, karena aku tidak berpikir bahwa dibelahan bumi yang lain, masih banyak orang yang mengalami penderitaan dan sakit lebih dari yang aku rasakan. Aku lupa mengucap syukur pada Tuhan atas apa yang telah Beliau berikan padaku selama ini. Aku masih punya seribu sahabat yang setia menemaniku, aku masih punya keluarga yang sangat menyayangiku, aku masih punya ehem..ehem…pacar yang selalu sabar menemani hari-hariku.

Buat kawan-kawan diblogsphere yang pernah dan selalu mampir, makasi ya telah memberikan semangat baru padaku dan membuka mataku (selama ini tertutup kebingungan yang dibikin bingung….????). Mbak mulia, aku menikmati kesedihan kemarin but life must go on kan? here iam now, smile…!!! iam in candid camera… 😆

Tetap semangat!!!!!!!!